Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Referensi Kematian: Etika Bunuh Diri, Pemakaman dan Eulogi | Ilustrasi, Ziadah Ziad

Referensi Kematian: Etika Bunuh Diri, Pemakaman dan Eulogi

Berita Baru, Kolom – Kamu ingin mati pada usia berapa? Dengan cara apa? Kamu ingin mati di mana? Setelah mati kamu ingin dimakamkan seperti apa? Kamu ingin dimakamkan di mana? di samping siapa? Siapa yang akan membacakan eulogi dan memimpin doa? Seperti apa eulogi yang kamu inginkan? Apakah kamu sudah mulai menabung untuk membeli sebidang tanah kuburan dan biaya upacara (pesta) kematian? Aku tahu kamu tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Pernahkah kamu berdoa kepada Tuhan agar kematian datang terlambat atau datang tiba-tiba tanpa ada pertanda sakit, misalnya saat kamu di meja belajar setelah menulis puisi-puisi itu? Atau mungkin tepat setelah menunaikan sholat subuh? Seperti apa kematian impianmu? Apakah kamu pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada dirimu sendiri? Maaf kalau pertanyaan-pertanyaan ini membuat kepalamu berat.

Saya rasa kita (manusia) tidak pernah terlalu muda atau tua untuk bicara soal kematian. Sebab seperti kata Murakami, mati bukan lawan dari kata hidup, mati adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.  Kematian juga sering diromantisasi seperti kehidupan. “Let life be beautiful likes summer flowers and death as beautiful as autumn leaves,” kata Rabindranath Tagore menyetarakan hidup dan mati dalam puisinya. Dalam Collateral Beauty, dikatakan bahwa kematian bahkan lebih penting dari pada waktu karena kematianlah yang membuat waktu itu bernilai. “Death is the mother of beauty; hence from her, alone, shall come fulfillment to our dreams and our desires,” ungkap Wallace Steven dalam puisinya yang berjudul Sunday Morning.

Romantisasi kematian, kesetaraan kematian dengan hal-hal yang indah, definisi dan pentingnya kematian sangat beralasan karena berbagai kebudayaan telah mengenal dewi, dewa atau malaikat pencabut nyawa yang juga dikenal sebagai dewi kelahiran dan dewa cinta. Misalnya Freyja dalam mitologi Norse. Dewi ini diasosiasikan sebagai lambang cinta, kesuburan, kesejahteraan dan kematian. Contoh lainnya adalah Hecate dalam mitologi Yunani, selain dikenal sebagai dewi kematian, ia juga dikenal sebagai dewi ilmu pengetahuan, cahaya, kelahiran dan kesuburan. Di Asia pada umumnya, kematian adalah hal yang perlu dirayakan sebab kematian berarti pertemuan denga Tuhan. Pesta kematian tidak kalah meriahnya dengan pesta pernikahan. Bahkan di beberapa negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, hari kematian dirayakan setiap tahun seperti ulang tahun kelahiran. Di Pulau Lombok, kematian dirayakan berkali-kali denga doa-doa dan pesta. Dengan ini, bisa disimpulkan bahwa kematian sebenarnya bukan sesuatu yang kelam dan buruk.

“How to die” dan Etika Bunuh Diri

Semoga kamu pergi dengan cara yang baik, dengan kematian yang kamu impikan bukan dengan cara-cara yang menyedihkan seperti kecelakaan darat, kapalmu tenggelam di perjalanan atau pesawat yang kamu tumpangi mengalami gagal mesin, dibunuh dan ditemukan setelah berhari-hari. Saya akan sangat sedih jika kamu memutuskan untuk mengakhiri hidupmu dengan cara suntik mati atau gantung diri. Ini bukan tentang salah atau benar. Saya tidak sedang menghakimi keputusanmu karena memang kebaikan atau manfaat dari sebuah aksi dan keputusan harus dilihat dari pengaruhnya, baik secara individu maupun secara sosial.

Menurut WHO, setiap tahunnya ada 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri dan merupakan penyebab kematian keempat di dunia khususnya bagi mereka yang berumur di antara 15-29 tahun. Tiga negara dengan angka kematian tertinggi adalah Lesotho, Guyana dan Eswatini. Sebagian besar kasus bunuh diri yang terjadi di negara ini disebabkan karena pelaku bunuh diri menderita penyakit HIV. Negara keempat dengan angka bunuh diri tertinggi adalah Korea Selatan. Bunuh diri di negara ini terjadi pada mereka yang berumur di bawah 40 tahun dan disebabkan karena tekanan akademik, masalah ekonomi, cyber bullying, dan pada orang tua disebabkan karena ketidakpuasan terhadap diri sendiri dalam memenuhi ekspektasi publik. Di Asia Tenggara, kematian akibat bunuh diri cukup tinggi mengingat Asia Tenggara adalah penyumbang sekitar 39% dari jumlah kematian global (Arafat., et al, 2020, p.9).  

Bunuh diri di sebagian besar negara-negara ASEAN adalah hal yang ilegal dan atau bertentangan dengan norma dan budaya. Malaysia dan Brunei dengan jelas menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu tindakan kejahatan, hal ini tertera dalam undang-undang mereka. Pelaku percobaan bunuh diri biasanya dihukum 10-3 bulan penjara atau harus membayar denda. Di Filifina, Kamboja, Thailand, Vietnam, Timor Timur, Indonesia dan beberapa negara ASEAN lainnya, tidak mengukuhkan hukum tersebut secara tertulis, namun secara adat, bunuh diri adalah hal yang tidak diperbolehkan. Sebelumnya Singapura menetapkan aturan yang sama terhadap percobaan bunuh diri dengan Malaysia dan Brunei, namun pada Januari 2020, aturan ini dicabut oleh pemerintah Singapura dengan alasan bunuh diri adalah ungkapan permintaan tolong.

Pandangan terhadap bunuh diri di Asia Tenggara sangat berlawanan dengan aturan-aturan terkait bunuh diri di Switzerland. Di Swis, bunuh diri bukan tindakan kejahatan atau hal yang ditentang oleh masyarakat dan pemerintah. Bantuan untuk melakukan bunuh diri adalah hal yang biasa sejak 1942 (Hurst & Mauron, 2016, p.5). Jumlah turis yang melakukan perjalanan ke Switzerland untuk mendapatkan bantuan bunuh diri semakin meningkat. Gauthhier dan kawan-kawan dalam penelitiannya, Suicide tourism: a pilot study on the Swiss phenomenon, turis yang melakukan perjalanan untuk mendapatkan bantuan bunuh diri adalah mereka yang menderita penyakit. Bunuh diri atau mendapatkan bantuan bunuh diri, pelaku bunuh diri harus sadar, tidak di bawah pengaruh siapapun.

Dua organisasi terkemuka yang memberi bantuan bunuh diri di Switzerland adalah Exit dan Dignity. Beberapa sumber menyebutkan dibutuhkan 3 bulan lebih untuk melakukan proses ini termasuk persiapan terkait dengan dokumen dan berbagai konsultasi yang dibutuhkan. Dilangsir dari kedua website Exit dan Dignity, biaya bantuan bunuh diri mencapai 7.500 Swis Franc atau sekitar IDR 120 juta tidak termasuk biaya pemakaman. Pada tahun 2017, Exit membantu 734 orang bunuh diri denga jasanya (Miller, 2018, p.2). Tercatat pada tahun 2018 anggota organisasi ini telah mencapai lebih dari 100.000 orang.

Semoga kamu tidak berencana melakukan hal ini apapun alasannya, biayanya pun sangat besar. Semoga kamu menemui ajalmu dengan cara-cara yang indah, seperti kata Jack dalam film Titanic. “you gonna go on, make a lot of babies, watch them grow, die as old lady, warm on her bed, not here, not like this ok,”

Pemakaman dan donasi tubuh

Setelah kematian, manusia dimakamkan dengan berbagai cara dan dengan tujuan menyatu dengan alam dan kembali kepada Tuhan. Ada yang dilarung ke laut seperti orang-orang Bajau, ada yang dikremasi, ada yang dimakamkan di tebing dan gua, ada yang dikubur dan ada juga yang dibawa ke atas bukit atau gunung untuk menjadi makanan burung bangkai (carrion birds).  Yang dilarung, akan menjadi makanan ikan, yang dikremasi dimakan api, yang dikubur terurai dimakan hewan-hewan tanah, dan yang dibawa ke atas bukit secara berani masuk ke dalam rantai makanan agar jasad menjadi lebih berguna.

Cara pemakaman yang lain adalah dengan tidak dimakamkan atau dengan menyumbangkan jasad kepada rumah sakit atau organisasi tertentu. Cara ini semakin populer dilakukan terutama di beberapa negara barat misalnya seperti di Belanda. Sophie Bolt dan timnya melakukan survey di Belanda terkait motivasi tentang meningkatnya angka penyumbang organ dan donasi seluruh tubuh untuk pendidikan medis. Survey dilakukan terhadap 996 orang yang terdaftar di database UMCG Body Donors. Dari survey tersebut ditemukan bahwa 29,7% penyumbang organ ingin memajukan pendidikan medis, 22,0% ingin memberikan kontribusi terhadap sains medis, 18,8% ingin menjadi orang yang berguna, 15,8% ingin membatu orang lain dan sisanya 1,9% ingin melakukan hal tersebut demi anak, cucu atau generasi selanjutnya.

Apakah pernah terpikir untukmu untuk tidak dimakamkan dan menyumangkan organum untuk pendidikan medis? Anyway, apapun cara yang dipilih, semuanya tidak lain untuk menyatu dengan alam, menjadi manusia yang lebih berguna dan kembali kepada Tuhan.

Eulogi & Doa

Eulogi adalah pidato yang ditujukan untuk seseorang yang baru saja meninggal di depan tamu yang datang melayat. Pidato ini biasanya dibacakan di rumah duka atau di pemakaman tepat setelah mayat dikuburkan. Tidak sembarang orang yang menulis dan membacakan eulogi. Eulogi berisi kenangan-kenangan manis dan lucu yang pernah dibagi bersama mendiang, ditambah dengan doa-doa dan harapan. Biasanya eulogi ditulis dan dibacakan oleh orang terdekat yang ditinggalkan.

Eulogi paling manis yang pernah saya baca adalah eulogi yang ditulis oleh salah satu lelaki yang paling dibenci dunia, Presiden Amerika Serikat ke-43, George W. Bush. Eulogi tersebut ia tulis untuk mendiang Ayahnya. Dalam eulogi ini, Bush menjelaskan bahwa air mata bukan sepenuhnya lambang kesedihan tapi juga sebaliknya, lambang kebahagiaan dan keberkahan mencintai seseorang dalam hidup manusia.

Eulogi lainnya adalah eulogi fiksi dari sepasang kekasih, Hazel dan Augustus dalam buku The Fault in Our Stars karya John Green. Mereka saling menuliskan eulogi yang kemudian mereka bacakan satu sama lain sebelum penyakit yang diderita mengakhiri hidup mereka. Dalam euloginya, Hazel dengan anggun menggambarkan bagaimana kematian telah menambahkan rasa syukur yang dalam terhadap apa yang mereka lewati bersama. Waktu yang singkat akibat kematian ia jelaskan dalam angka tak terhingga (infinite numbers) antara 0 dan 1. Dan memang benar sedekat apapun jarak antara 0 dan 1 sebenarnya tak terbatas. Contohnya 0,53444490020003000435555555, angka ini tidak terbatas. Sementara Augustus, pada halaman 312-313, mengungkapkan bahwa kematian yang bisa diprediksi membuat manusia lebih baik dan tidak ingin meninggalkan luka. Kematian memberikan nilai tertinggi terhadap kenangan sebab segala yang mati berarti keindahan. Sama halnya dengan kita yang selalu menginginkan mawar yang dipetik dari pohonnya, bukan plastik yang berpura-pura jadi mawar merah atau kuning.

Baik eulogi fiksi atau non-fiksi menggambarkan bahwa kematian adalah bagian dari menjadi suatu keindahan. Segala hal yang hidup dan indah ditandai dengan kematian. Kematian adalah keindahan yang sulit diterima oleh manusia. Karena itu kematian selalu diikuti dengan tangis.


Tentang Penulis.

Ziadah Ziad, Lahir dan dibesarkan di Pulau Lombok, suka menulis dongeng dan puisi. Pernah bekerja di koran kecil di Iowa. Sekarang ia bekerja sebagai penulis, penerjemah lepas dan guru Bahasa Inggris. Buku-buku anak yang ia tulis dan telah diterbitkan adalah Petualangan Anjani oleh GIZ Indonesia dan ASEAN, picture-book berjudul Ijo Balit dan Sepasang Sungai oleh INOVASI, dan Aku Anak Gili oleh Enjoy Life dan Ethical Coach. Jika ingin terhubung dengan Ziad, ikuti akun instagramnya @Ziadah_Ziad.